Langsung ke konten utama

Wawancara Eksklusif: Bincang Santai Bersama Penulis Muda Cahaya Qur'an

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Sahabat literasi Baitul Ilmi, membaca karya yang luar biasa tentu membuat kita penasaran dengan sosok di baliknya. Siapa sangka, di balik seragam sekolah dan rutinitas padat di pondok, tersimpan bakat-bakat menulis yang mengagumkan dari teman-teman kita sendiri!

Pada kesempatan kali ini, Tim Baitul Ilmi berkesempatan untuk ngobrol santai dengan lima perwakilan penulis muda kebanggaan SMP Cahaya Qur'an yang karyanya berhasil diterbitkan dalam proyek antologi, termasuk seri Voucher untuk Ibu Vol. 4.

Mari kita sapa narasumber istimewa kita hari ini:

Zlatan (Kelas 7)

Locita (Kelas 7)

Farid (Kelas 8)

Nadhira (Kelas 9)

Ardan (Kelas 9)

Yuk, simak obrolan seru kami!

Tim Baitul Ilmi (TBI): Halo semuanya! Wah, selamat ya karyanya berhasil terbit! Gimana sih perasaan kalian pas pertama kali tahu tulisan kalian lolos masuk ke buku antologi?

Nadhira (Kelas 9): "Alhamdulillah, pastinya senang banget dan agak nggak nyangka. Buat aku yang kelas 9, ini jadi semacam kenang-kenangan yang berharga banget sebelum lulus dari Cahaya Qur'an."

Zlatan (Kelas 7): "Aku awalnya grogi, Kak. Soalnya aku kan baru kelas 7, takut tulisanku kurang bagus dibanding kakak-kakak kelas. Tapi pas tahu lolos, rasanya bangga banget! Jadi makin semangat nulis."

TBI: Boleh bocorin sedikit dong, dari mana sih kalian dapat inspirasi untuk nulis cerita yang bagus-bagus itu?

Locita (Kelas 7): "Kalau aku banyak dapat inspirasi dari keseharian di pondok. Kadang ada rasa kangen sama orang tua di rumah, nah rasa kangen itu aku tuangin jadi cerita. Pas banget juga kan dengan tema antologinya yang tentang Ibu."

Farid (Kelas 8): "Bener kata Locita. Inspirasi itu ada di sekitar kita. Aku suka ngamatin teman-teman. Terus, karena kita dikasih waktu khusus buat pegang HP, pas ide itu muncul bisa langsung aku ketik cepat-cepat biar nggak lupa."

TBI: Nah, ngomongin soal nulis. Waktu itu ada kendala nggak sih? Apalagi kan kalian harus bagi waktu antara ngaji, sekolah, dan naskah.

Ardan (Kelas 9): "Pasti ada kendalanya, apalagi ngatur waktu. Tapi untungnya kita dibantu banget sama ustadz dan ustadzah. Ingat banget pas jam pelajaran Bahasa Indonesia, kita boleh pakai waktunya buat ngembangin ide. Itu ngebantu banget pas lagi buntu atau bingung mau nerusin cerita ke mana."

TBI: Terakhir nih, apa pesan kalian buat teman-teman lain yang masih ragu atau malu buat ikut proyek menulis antologi berikutnya?

Farid (Kelas 8): "Nggak usah takut salah atau jelek. Tulis aja dulu apa yang ada di pikiran kalian. Nanti kan ada proses editing. Kalau nggak dicoba, kita nggak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kita."

Ardan (Kelas 9): "Betul! Menulis itu ibarat ngobrol, tapi lewat teks. Jadi santai aja. Yuk, bareng-bareng ramaikan proyek antologi selanjutnya, biar karya santri Cahaya Qur'an makin mendunia!"

Wah, inspiratif sekali ya obrolan kita dengan Zlatan, Locita, Farid, Nadhira, dan Ardan! Semoga semangat mereka bisa menular ke kalian semua. Ingat, setiap orang punya cerita yang layak untuk dibagikan.

Sampai jumpa di bincang-bincang inspiratif berikutnya!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Komentar